Ketemu Project Space | An Interview with Gamaliel W. Budiharga.
15245
post-template-default,single,single-post,postid-15245,single-format-standard,qode-quick-links-1.0,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,columns-4,qode-product-single-tabs-on-bottom,qode-theme-ver-11.0,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.1.1,vc_responsive

An Interview with Gamaliel W. Budiharga.

Tidak lama setelah Boim (Gamaliel W. Budiharga) dan Senja kembali bersama Raga kecilnya ke Surabaya, kami menunggu dengan semangat bercampur ketidak sabaran untuk menerima gagasan mereka mengenai identitas Ketemu.

Berikut adalah wawancara kami dengan Boim, memberikan gambaran mengenai inspirasi dibalik design barunya:

Seperti apakah pengalaman anda selama masa residensi di Ketemu? Apa kesan pertama anda saat memasuki Ketemu Space?

Saya diberi kesempatan untuk residensi selama 4 hari di Ketemu bersama keluarga. Sebelumnya Mintio mengungkapkan bahwa Ketemu membutuhkan logo. Maka, misi utama saya adalah merasakan atmosfir Ketemu sebagai sebuah ruang proses berkarya untuk kemudian diwujudkan menjadi desain logo atau identitas Ketemu. Ketemu memberikan pengalaman ruang yang teduh, tenang, bersahaja dan ramah. Ketemu berada di sebuah perumahan yang jauh dari hiruk pikuk Bali sebagai tujuan wisata. Di Ketemu saya tidak menemukan suasana Bali seperti yang sebelumnya pernah dirasakan saat berwisata di Bali, ramai dan sarat dengan hiburan, toko dan lain-lain. Saya pikir pengalaman ruang ini malah mengingatkan saya dengan suasana Yogya, yang meskipun juga sebagai tempat tujuan wisata, namun masih memberikan suasana yang ramah untuk berkarya. Arsitektur pun hampir-hampir tidak bergaya Bali, seperti pada umumnya bangunan di Bali. Bangunan Ketemu diracik dari kayu-kayu rumah lawas Jawa yang dipoles ulang. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan latar Mintio dan Kabul yang pernah tinggal dan berkarya di di Yogya.
 
Kami juga senang diberi kesempatan untuk bisa berbagi pengalaman di acara Ketemu Aja. Ini menjadi sesi yang menarik karena terjadi diskusi dengan teman-teman di Bali mengenai praktik desain yang kami lakoni.
Jelaskan satu pertemuan atau kunjungan terpenting yang telah membentuk karir maupun hidup anda.
Pertemuan terpenting dalam hidup tentunya ketika bertemu dengan Senja, teman hidup saya (istri) sekaligus partner kerja. Pertama, karena kami punya kesamaan minat di bidang desain, meskipun pengetahuan saya lebih berbasis praktik dan dia lebih berbasis teoritik. Kedua, karena kami memiliki gaya desain yang berbeda, saya cenderung modern, mungkin lebih dekat dengan mahzab swiss international yang menekankan kebersihan, keterbacaan dan tujuan komunikasi yang jelas (tipografi yang lugas dan sangat fungsional). Di sisi lain, dia dekat dengan mahzab art nouveau yang lebih banyak menekankan pada sisi dekoratif atau ornamentasi sebuah desain. Pertemuan antara persamaan dan perbedaan ini menjadi dialog yang saling memperkaya dan membuat kami mendekati desain dengan cara yang baru.
Jelaskan proses anda dalam mendesain logo Ketemu.
...dalam bahasa Indonesia bertemu, penemu, pertemuan dan penemuan berasal dari kata dasar yang sama. Maka Ketemu sebagai sebuah nama atau merek untuk menyebut sebuah ruang yang memfasilitasi interaksi dengan komunitas melalui seni dan kreativitas menjadi sangat sesuai. Karena bagi saya sebuah pertemuan memungkinkan sebuah penemuan.
Proses mendesain logo ketemu tentunya dimulai sejak kami residensi Ketemu. Kami menikmati sekaligus mengamati apa yang ada di sana serta aktivitas orang-orang di sana dan hubungannya dengan komunitas yang mereka temui. Selain itu, tentunya kami juga mendengar dari Mintio dan Kabul soal gagasan Ketemu dan sepenggal sejarahnya.
 
Lalu kami mulai mencatat beberapa gagasan serta hal-hal yang kemungkinan secara visual menarik untuk dihubungkan dengan gagasan Ketemu. Bagi saya, mendesain logo atau identitas membutuhkan kedekatan (dekat secara fisik dengan Ketemu sebagai sebuah tempat atau ruang) sekaligus kejauhan (jauh secara fisik dengan Ketemu sebagai sebuah ruang) dari obyek. Maka justru ketika kami pulang dari Ketemu dan kembali ke rumah, kesan dan pengalaman itu mulai kami bicarakan dan kami olah. Kami membuat beberapa sketsa untuk memancing segala macam kemungkinan.
 
Sejak awal kami ingin identitas itu sederhana seperti sebuah pertemuan. Meskipun sederhana namun gagasan pertemuan, yang menjadi gagasan sentral dari Ketemu, menyimpan banyak makna dan potensi perubahan. Kata “ketemu” sendiri, bagi saya merupakan sebuah merek atau brand yang maknanya sangat kaya. Dalam bahasa Indonesia, “ketemu” merupakan bahasa yang biasa dipakai dalam percakapan atau bahasa ujaran lisan. Bentuk bakunya adalah bertemu yang dibentuk dari kata dasar “temu” ditambah awalan “ber-“. Di sini kata ini sebenarnya menjadi menarik, karena dalam bahasa Indonesia bertemu, penemu, pertemuan dan penemuan berasal dari kata dasar yang sama. Maka Ketemu sebagai sebuah nama atau merek untuk menyebut sebuah ruang yang memfasilitasi interaksi dengan komunitas melalui seni dan kreativitas menjadi sangat sesuai. Karena bagi saya sebuah pertemuan memungkinkan sebuah penemuan.
 
Setelah menyaring beberapa sketsa, kami sangat tertarik dengan bentukan huruf ketemu yang sengaja kami pisahkan menjadi 3 baris. Di sana ada dua huruf E yang dibatasi dengan huruf T. Kami membalik huruf E supaya tampak saling berhadapan seperti ketika orang bertemu. Awalnya huruf T kami respon dengan memberi sela antara garis horizontal dan vertikalnya, ini untuk memberi visual ruang pada huruf E untuk bertemu. Kemudian setelah melalui diskusi dengan teman-teman Ketemu, diputuskan untuk membuat T seperti visual tanda tambah (+) untuk menekankan gagasan pertemuan sebagai peristiwa yang mempunyai nilai tambah. Huruf M dan U sengaja dilekatkan untuk memberi gambaran pada gagasan yang sudah jadi milik bersama.
 
Warna biru pada logo Ketemu adalah warna langit yang merupakan warna langit, yang mengkonotasikan keluasan, kebebasan dan keluhuran. Sedangkan warna oranye mengkonotasikan kesegaran dan kebaruan.
Jika ada seseorang/situasi/sesuatu yang ingin anda temui, siapa/apakah itu?
Ini pertanyaan yang sulit dijawab karena membingungkankan buat saya. Mungkin jawaban yang klise, “Saya ingin bertemu dengan orang-orang yang karyanya menginspirasi hidup saya”. Tapi kemungkinan saya juga tidak ingin bertemu dengan mereka. Bukankah di balik karya yang menarik tidak selalu berarti ada kreator yang (pribadinya) menarik.
 
Waktu kecil ketika dalam sebuah perjalanan melewati rumah-rumah yang menurut saya bagus, saya selalu punya keinginan sekaligus ketakutan untuk masuk dan bertemu dengan orang-orang yang ada di dalamnya, merasakan situasinya beberapa saat dan melihat bagaimana orang-orang yang tinggal di sana beraktivitas. Sampai sekarang keinginan semacam itu mungkin masih muncul. Kadang saya ingin bertemu dengan orang asing. Entah mengapa, mungkin karena ada kebaruan dan kejutan ketika bertemu dengan orang asing. Mungkin bisa menyenangkan dan mungkin pula bisa mengecewakan.